Makan Bersama Turunkan Risiko Anak Terjebak Narkoba

Minggu, 22 Agustus 2010

Semakin meningkatnya aktivitas anak sepulang sekolah dan panjangnya aktivitas kerja orangtua, membuat keluarga di zaman modern ini semakin sulit untuk mendapatkan waktu yang berkualitas untuk berbagi cerita setiap harinya, seperti saat makan malam. Padahal, banyak pakar kesehatan dan psikolog yang menyatakan makan malam bersama dalam sebuah keluarga dapat memberikan atmosfer positif untuk tumbuh kembang anak secara fisik dan psikis, terutama di usia batita, pra-sekolah, sekolah, hingga masa remaja.

Seperti sebuah studi yang pernah dilakukan oleh National Center on Addiction and Substance Abuse (CASA) Columbia University, Amerika Serikat menuturkan hasil penelitiannya bahwa makan bersama keluarga dapat membantu anak untuk beberapa cara, seperti membantu mereka mendapatkan nilai yang lebih baik dan menjauhkan mereka dari penggunaan rokok, alkohol, marijuana, dan zat adiktif lainnya.

Sebuah studi lain dari University of Minneapolis, Amerika Serikat, menemukan tren serupa berkaitan dengan keluarga. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa semakin banyaknya frekuensi makan malam bersama keluarga berhubungan dengan semakin banyaknya terjadi perilaku positif anak.

Makan malam yang baik seharusnya jika dilakukan di meja makan dan bersama anggota keluarga yang lain, dan tidak perlu dilakukan di sebuah restoran, karena hal ini cukup dilakukan di rumah saja. Sayangnya, kecenderungan anak sekarang, malah lebih senang makan di depan televisi. Seperti dijabarkan dari studi oleh Children's Nutrition Research Center (CNRC) menyatakan bahwa anak yang memiliki kelebihan berat badan (obesitas), frekuensi makan di depan televisi sebesar 50 persen. Sedangkan untuk anak dengan berat normal, frekuensi makannya hanya 35 persen di depan televisi.

Dengan beberapa studi yang disebutkan di atas, terlihat bahwa banyak poin positif yang bisa diambil dari sebuah kegiatan makan malam bersama lengkap dengan orangtua dan anggota keluarga lainnya. Maka para orangtua anak sebaiknya dapat menyisihkan waktu setiap hari atau minimum seminggu tiga kali untuk aktivitas ini.

Untuk beberapa poin lain yang menarik dari kesempatan makan malam bersama ialah setiap anggota akan menikmati makanan yang lebih sehat dibanding jajan di luar rumah, memiliki waktu mengobrol lebih lama dengan buah hati, dan anak pun dapat belajar mendengarkan problem anggota keluarga yang lain sekaligus berdiskusi mencari solusinya. Mari, saatnya luangkan waktu Anda untuk makan malam bersama keluarga tercinta.

Menyapih Anak dari Botol Susunya

Rabu, 04 Agustus 2010

Buat si kecil, meminum susu di dalam botolnya adalah suatu pengalaman nikmat tiada tara. Botol dan susunya tak beda dengan selimut hangat atau boneka beruang kesayangannya. Ketika Anda bepergian bersamanya, dan persediaan susu telah habis, si kecil bagaikan sedang "sakau" minum susu. Gelisah, uring-uringan, dan merepotkan.

Ketika sudah waktunya bagi mereka untuk belajar menggunakan gelas untuk minum susu, tantangannya berikutnya menanti. Berpisah dengan botol susu bukanlah ide menarik untuk si kecil. Meninggalkan botol sama rasanya dengan meninggalkan teman baiknya. Namun, Anda memang harus tega menggusur botol susunya itu.

Yang perlu Anda lakukan saat menerapkan latihan ini adalah kegigihan, ketekunan, dan selalu mengingat bahwa latihan ini akan berhasil. Buktinya, Anda tak pernah melihat murid TK masuk sekolah sambil membawa botol susunya, bukan? Berikut langkah yang bisa Anda lakukan:

Singkirkan botolnya
Menyapih anak memerlukan komitmen yang tinggi. Ketika Anda memutuskan ini waktunya anak berhenti menggunakan botol susu, sebaiknya botol susu pun tak lagi beredar di dalam rumah. Menyimpan botol di meja atau rak piring hanya akan membuat si kecil terus merengek dan mempersulit transisinya.

Cara satu-satunya: singkirkan botol tersebut dan pastikan si kecil melihat Anda melakukannya. Masukkan botol susu ke dalam tas, dan katakan pada anak bahwa Anda akan memberikan botol tersebut kepada anak lain yang lebih membutuhkan. Ajak anak membawanya ke kotak pos, ucapkan perpisahan, dan minta ia tetap tabah.

Tukarkan
Bila si kecil belum bersedia melepaskan botol susunya, Anda bisa menawarkan alternatif untuk memikatnya. Misalnya, dengan memberikan sippy cup (gelas yang diberi penyedot) sebelum benar-benar mengharuskannya menggunakan gelas. Atau, Anda bisa memberikan susu cokelat sebagai pengganti susu putihnya yang biasa. Anda harus hati-hati, agar anak yang tergolong pemilih tidak lantas memilih jenis minuman yang kurang bergizi.

Tekunlah
Tentu akan ada "pemberontakan-pemberontakan" kecil saat menjalani proses ini. Entah ia menangis sepanjang waktu, terjadi temper tantrum, atau ia bersikeras tak mau minum susu. Apapun yang terjadi, jangan menyerah. Anda telah membuat keputusan untuk menyingkirkan botolnya untuk alasan yang tepat, jadi tetaplah dengan rencana Anda. Proses ini tak akan mudah, namun bila Anda melunak, Anda hanya akan mempersulit kemajuan si kecil dan Anda sendiri.

 

Browse