Si Kecil Kesengsem Gurunya?

Minggu, 28 Februari 2010

Duh, kesalnya, meski mulut kita sudah berbusa meminta si kecil untuk membereskan mainannya, ia tak juga mengindahkannya. Eh, sekalinya patuh, ia bisa-bisanya berkata, "Oke, aku beresin. Soalnya kata pak guru, kalau habis main, semuanya harus dibalikin ke tempat semula."

Lho, bukankah kita juga bilang begitu selama ini? Apakah anak-anak sekecil ini pun sudah menganut paham, yang penting bukan apa yang dibicarakan tapi siapa yang berbicara?

Guru dan dokter
Guru dan dokter merupakan figur istimewa bagi anak-anak. Di usia 3-5 tahun, si kecil sudah bisa menilai kepandaian seseorang. Guru yang kerap mengajarinya banyak hal: bernyanyi, mewarnai, berbicara bahasa Inggris, hingga olahraga, masuk kategori pandai. Demikian pula dengan dokter yang mampu mengobatinya kala sakit. Lantaran guru dan dokter adalah orang pandai, ia akan sangat percaya dengan apa yang dikatakan mereka.

Jangan lupa, kebiasaan kita mengutip ucapan guru atau dokter juga menguatkan persepsi anak bahwa sosok guru dan dokter merupakan orang-orang yang bisa dipercaya dan dipatuhi. "Ayo, makan. Dokter kan bilang kamu harus banyak makan supaya cepat besar!" Atau, "Ingat apa yang dibilang bu guru? Sebelum berangkat sekolah kamu harus sarapan!"

Cara kita melarang tanpa alasan jelas dengan gaya yang membuat anak tersudut dan merasa tidak dihargai akan membangun kesan negatif pada diri anak.

Sosok idola
Masih ada beberapa alasan mengapa anak lebih percaya dan patuh terhadap guru atau dokter, seperti:

Lebih sabar
Selain mengetahui guru dan dokter adalah orang-orang pandai, anak pun kerap terkagum-kagum akan perilaku mereka yang penyabar, penuh senyum, penyayang, dan kerap membantu orang yang sedang membutuhkan. Kekaguman itu akan membuat anak mengidolakan mereka.

Dibandingkan kita yang kerap kehilangan kesabaran saat menasihati mereka, guru atau dokter biasanya menyampaikan sesuatu dengan cara yang sangat bersahabat, yang membuat anak merasa nyaman. Pada gilirannya, rasa nyaman ini menumbuhkan kedekatan anak dengan figur tersebut.

Rasa takut
Namun tak hanya pengidolaan, ketakutan pun bisa menjadi penyebab kepatuhan anak pada kata-kata guru atau dokter. Kita lah yang terkadang membangun persepsi yang menakutkan pada kedua profesi itu. "Kalau tidak mau makan nanti dimarahi bu guru, lho!" Atau, "Kamu mau disuntik dokter atau makan?"

Kata-kata yang berlebihan itu tentu dapat membuat anak-anak prasekolah bergidik. Kalau sikap guru atau dokter yang ditemuinya memang dingin dan kaku, atau anak pernah mengalami pengalaman buruk (misal, kesakitan kala disuntik) akan semakin mengukuhkan ketakutan anak.

Pendekatan berbeda
Pendekatan guru atau dokter kepada anak umumnya akan berbeda dengan orangtua. Profesionalitas akan mendorong guru atau dokter mencari cara agar pendekatan yang dilakukan pada seorang anak bisa berhasil (dalam arti anak merasa nyaman dan mau mengikuti keinginan mereka). Apabila pendekatan yang dilakukan orangtua amat bertolak belakang (misal orangtua kerap tidak sabar, kata-katanya tak lembut, terkesan memerintah dengan ekspresi marah) maka "kebanting lah" sosok orangtua.

Ingat, kemampuan anak-anak prasekolah sudah berkembang. Tanpa perlu diperintah, ia sebenarnya tahu kalau ia harus mandi, harus makan, harus cuci tangan, dan sebagainya. Ketika orangtua memerintah layaknya seorang raja, makan anak kerap tak patuh.

Cara Cepat Mengatasi Morning Sickness

Rabu, 24 Februari 2010

Trimester pertama adalah saat paling menyulitkan bagi ibu hamil. Sebab saat itu morning sickness atau mual-muntah di pagi hari sedang parah-parahnya. Tak jarang, tidak ada satu makanan pun yang sanggup Anda telan. Jangankan nasi, makanan kecil pun sulit untuk Anda kunyah.

Namun bila Anda ingin cara lain untuk mengatasi morning sickness, trik yang ditawarkan oleh ParentsConnect.com ini bisa Anda coba:

1. Utamakan makanan berkarbohidrat yang ringan, seperti keripik kentang, biskuit sayur, atau biskuit beraroma lemon yang akan membuat rasa eneg menghilang. Makanan ini kaya akan gula penghasil energi, serta kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Usai makan keripik kentang, minumlah air jeruk manis. Kombinasi asin-asam ini bisa mengenyahkan rasa mual.

2. Makan makanan yang mengandung jahe, karena jahe punya rasa pedas yang akan menghilangkan rasa mual. Anda bisa mencoba memasukkan sepotong jahe dalam sup. Mengudap biskuit jahe atau permen jahe juga boleh dilakukan.

3. Vitamin B6 (harus dengan resep dokter), yang biasanya diajurkan untuk kehamilan trimester pertama dengan gejala morning sickness yang parah.

4. Minyak lavender atau minyak lemon. Masukkan kedua jenis minyak esensial ini ke dalam botol kecil untuk dihirup saat Anda merasa mual, atau usapkan sedikit di pergelangan tangan. Aromaterapi bisa membuat Anda dan perut Anda rileks.

5. Bedakan saat minum dan makan. Memang Anda harus minum air putih minimal 8 gelas per hari. Namun Anda tidak harus meminumnya bersamaan saat makan. Kadang-kadang mual bisa dihindari dengan mengganti minuman dengan makanan. Atau, minumlah satu jam sebelum atau sesudah makan.

6. Makan makanan berkarbohidrat. Bentuknya tidak harus nasi, tetapi juga biskuit, roti bakar, atau sereal kering.

7. Siapkan es, air dan perasan jeruk lemon, kemudian blender. Minuman ini bisa menghilangkan dehidrasi; selain itu efek lemon juga menghilangkan rasa mual karena rasa asamnya.

Tambal Gigi Warna-Warni

Rabu, 17 Februari 2010


Mengajak anak ke dokter gigi memang bukan hal yang gampang. Apalagi untuk melakukan perawatan khusus, seperti menambal atau mencabut gigi. Masuk ke dalam ruangan serba putih dan berbau obat saja mereka sudah takut. Apalagi harus mendengar suara bor gigi, atau memasang tambalan gigi yang prosesnya cukup lama.

Untuk menarik hati anak, Anda mungkin bisa menawarkan tambal gigi berwarna-warni. Teknik ini disebut Colourful Filling. ''Caranya sama dengan penambalan gigi pada umumnya, tetapi bahan tambalan giginya kami buat berwarna-warni. Dengan demikian, bisa menarik perhatian anak, dan mereka tidak ketakutan,'' jelas Dr Enrita Dian, SpKGA, dari Klinik Ultimo Estetika, beberapa waktu lalu.

Selain untuk memberi kesan lebih cantik, tambalan gigi berwarna-warni ini juga bisa mempermudah orangtua untuk mengecek, apakah tambalan gigi sudah rontok atau hilang. ''Karena warnanya mencolok, cara ini juga mempermudah orangtua untuk mengetahui apakah sudah saatnya memperbaiki tambalan,'' imbuhnya.

Tambalan gigi ini dijamin aman untuk gigi anak. Bahkan tambalan jenis ini bisa bertahan cukup lama. ''Semua tergantung anaknya. Kalau ia rajin merawat gigi dengan menggosok gigi, tambalan bisa bertahan hingga setahun. Tapi kalau malas, umumnya, tambalan akan jadi rapuh karena asam dalam mulut kemudian jadi retak dan gompel,'' jelasnya.

Sementara itu, tambalan beraneka warna ini bisa dipilih sesuai dengan warna kesukaan anak. Enrina menyarankan agar orangtua membawa anak-anak untuk memeriksakan gigi secara rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Maklum, anak-anak lebih sering mengalami problem gigi daripada orang dewasa, disebabkan kegemaran mereka makan permen atau gula-gula.

Melahirkan Lebih Mudah dengan Cara Jongkok

Kamis, 04 Februari 2010


Anda pasti akan menggelengkan kepala saat melihat cara suku pedalaman atau mereka yang jauh dari peradaban melahirkan bayi mereka.

Rata-rata mereka menggunakan cara yang ekstrem untuk melahirkan. Ada yang berdiri, duduk, atau bahkan jongkok. Namun Anda percaya tidak, cara yang mereka lakukan ini ternyata justru mempermudah cara melahirkan.

''Awalnya saya juga merasa bingung saat melihat proses melahirkan seperti itu. Si ibu berdiri dan berpegangan pada sebuah tiang. Tapi setelah saya mengambil pendidikan lagi, ternyata cara mereka ini baik,'' ujar dr Judi Januadi Endjun, SpOG, ahli obstetri dan ginekologi dari RSPAD, dalam talkshow dan senam yophyta yang digelar oleh Anmum Materna di Balai Sudirman, Jakarta, Sabtu (20/2/2010).

Judi mengatakan bahwa cara melahirkan yang paling baik adalah dengan berdiri, jongkok, menungging, atau miring. Cara ini membuat bayi mudah lahir karena mengikuti gaya gravitasi bumi. Ia juga mengatakan, cara yang masih terbilang ekstrem di dalam negeri itu akan mencegah bahaya kematian bayi. Sedangkan melahirkan dengan tidur terlentang justru akan memperlambat proses melahirkan.

''Posisi terlentang akan membuat bayi harus menanjak menuju ke jalan keluar rahim. Jalur rahim menjadi bergelombang,'' ujar Judi pada Kompas Female.

Cara terlentang akan menimbulkan perobekan yang besar pada lubang vagina, yang menyebabkan rahim menekan pembuluh dalam yang menuju jantung pada bayi. Akibatnya, bayi bisa kekurangan oksigen. Tak jarang bayi yang dilahirkan tidak menangis, atau meninggal akibat kekurangan oksigen.

Judi juga menyarankan agar ibu hamil kerap melakukan pekerjaan yang bisa merangsang kerja otot panggul seperti berjalan dan olahraga, agar kelahiran bayi jadi lebih mudah. Sebab sebenarnya, untuk melahirkan kerja ibu untuk mengejan hanya 10 persen dari keseluruhan proses kelahiran. Sedangkan sekitar 90 persennya adalah kerja dari otot panggul yang secara langsung akan mendorong bayi keluar dari rahim saat pembukaan jalur lahir sudah cukup.

 

Browse