Jangan Biarkan Anak Mencari Perhatian di Facebook

Minggu, 28 Maret 2010

Facebook makin mudah diakses, termasuk dari ponsel.
Jumat, 19/2/2010 | 13:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa tak kenal Facebook? Situs jejaring sosial tersebut telah menarik minat 1.333.649 user di Indonesia pada 2009, sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna Facebook nomor satu di Asia Tenggara, dan nomor tujuh di dunia. Pesona Facebook yang menyediakan sederet fitur yang memungkinkan penggunanya berinteraksi langsung seperti chatting, tagging foto, blogging, dan bermain games itu, mampu menarik rasa penasaran orangtua, remaja, hingga anak-anak.

Sari, misalnya. Gadis kecil, yang masih duduk di kelas VI SD ini, selalu menyempatkan diri membuka aplikasi Facebook melalui ponsel kakaknya. Sebelum berangkat sekolah, Sari tak mau ketinggalan meng-update status di Facebook.

Jika tak ada ponsel beraplikasi Facebook, atau komputer berakses internet di rumah, anak-anak seperti Sari selalu menyempatkan diri mengunjungi warung internet sepulang sekolah. Begitu pula Aida (10). Karena tak punya akses internet di rumahnya, hampir setiap hari Aida pergi ke warnet untuk melihat notifikasi pada Facebook-nya.

"Atau main Farmville. Abis makan, minta duit, main," ujar Aida yang ditemui Kompas.com pada Jumat (19/2/2010).

Boleh dibilang hampir setiap hari Sari dan kawan-kawannya berusaha terus terakses dengan situs pertemanan dunia maya tersebut. Jika demikian kondisinya, apa pengaruhnya pada kehidupan sosial anak?

Psikolog anak Universitas Indonesia, Mayke S. Tedjasaputra, saat dihubungi Kompas.com hari Kamis (18/2/2010) berpendapat, penggunaan Facebook oleh anak usia dini seperti usia sekolah dasar dapat memperkenalkan perilaku negatif tertentu kepada anak. Hal tersebut dikarenakan, menurut Mayke, dengan Facebook anak dapat melacak kemana pun, mengenal siapa pun yang tidak pernah mereka lihat rupanya atau ekspresinya. Sehingga, anak-anak mudah ditipu melalui Facebook.

"Mereka bisa berkenalan dengan seseorang yang memanfaatkan mereka, mengajarkan hal-hal yang mengagumkan sampai anak-anak terkesima, mengajarkan perilaku tertentu, hingga yang negatif, seperti ajakan berhubungan intim," katanya.

Apalagi sebagai anak, kata Mayke, Sari atau Aida belum dapat memilah kepada siapa harus berteman di Facebook, dan kepada siapa tidak harus berteman. "Semua kembali kepada komunikasi orangtua dan anak. Keluarga adalah perisai utama di rumah. Lingkungan bisa memberi pengaruh apa saja pada anak," paparnya.

Dikatakan Mayke, orangtua memang tidak dapat mencegah penggunaan Facebook oleh anak. Namun, lanjutnya, orangtua dapat memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya agar sang anak tidak mencari perhatian orang lain di dunia maya.

"Kalau orangtua tidak memberi perhatian kepada anaknya, anak bisa mencari perhatian dari dunia luar. Bisa saja terjadi seperti NT (Nova, remaja yang diduga lari dengan teman Facebook-nya) yang berkenalan dengan teman Facebook," imbuh Mayke.

Perhatian pada anak, serta komunikasi yang terlain lancar antara orangtua dan anak, dapat menjadi perisai utama menghadang terpaan dampak negatif Facebook pada anak.

Si Kecil Sering "Overacting" di Kelas

Selasa, 23 Maret 2010

Biasanya, anak-anak yang baru pertama kali sekolah cenderung malu-malu untuk bertingkah laku berlebihan. Akan tetapi, ada kalanya seorang anak yang mempunyai bakat aktif justru akan semakin menunjukkan keaktivannya di depan teman-teman barunya.

Misalnya, dengan menunjukkan sikap tidak mau diam di dalam kelas sehingga merepotkan gurunya atau membuat teman-temannya jengkel. Selain itu, anak ini juga tak segan dan selalu melontarkan berbagai pertanyaan yang sebetulnya tak perlu kepada gurunya pada saat jam pelajaran sedang berlangsung.

Tentu hal ini membuat Anda kewalahan dengan sikapnya yang terlalu berlebihan dibandingkan sikap teman-teman lainnya. Sikap aktif memang baik. Namun, ada baiknya Anda juga berkonsultasi dan bicara panjang lebar dengan gurunya di kelas, mengenai sikap anak Anda yang terkadang membuat kesal.

Michele Borba, Ed D, penasihat para orangtua, dalam bukunya mengatakan, "Jika anak Anda betul-betul bersikap buruk dan tidak hormat kepada gurunya, Anda harus membuat janji untuk bertemu gurunya dan sang anak, lalu bersama-sama membicarakan secara detail kapan saja sang anak membuat kesulitan di kelas."

Namun, lanjutnya, jika alasan mengapa anak Anda sampai menyulitkan gurunya karena dipicu oleh saling ejek dengan teman-teman lainnya, mungkin yang bermasalah bukan cuma sang anak. Bisa jadi, pihak sekolah pun harus bertanggung jawab dalam menerapkan kedisiplinan kepada murid-muridnya yang lain.

"Sejak masalah yang timbul terlihat semakin berkembang, para orangtua yang mempunyai anak-anak bermasalah dalam bersikap hendaknya bekerja sama dengan pihak sekolah untuk membicarakan lebih lanjut masalahnya itu," lanjut Dr Borba.

Ada baiknya, lanjut Borba, ketika kelas sedang istirahat, Anda menengok keadaan anak, apakah ia memang bertingkah laku menyulitkan atau teman-teman dan pihak sekolahnyalah yang merangsang sikapnya yang overacting.

Yang terpenting, tambah Borba, jika anak Anda memang terbukti bermasalah dengan sikap dan tingkah lakunya, pihak sekolah harus membuat kesepakatan dengannya. Jangan sampai masalah ini Anda telan sendiri dengan menerapkan kedisiplinan keras terhadap anak, apalagi sampai melakukan tindak kekerasan fisik terhadapnya.

Bagaimanapun juga, untuk menyelesaikan masalah ini, tidak bisa Anda sendiri yang menangani. Perhatian dari pihak sekolah, terutama guru-gurunya di kelas, sangat penting untuk mendampingi anak-anak yang terbukti bermasalah dalam bertingkah laku. "Mengawasi anak bermasalah bisa dilakukan saat mereka sedang istirahat atau bermain," imbuh Borba.

Selamat Tidur, Sayang....

Rabu, 17 Maret 2010


Mengantarkan si bayi tertidur tak semudah yang dibayangkan. Ada hal-hal yang harus diperhatikan. Apa sajakah?

Pastikan...
Mengenali Tanda-Tanda Kantuk
Menggosok mata, menangis, gerakan tersentak-sentak, dan menguap merupakan tanda-tanda si kecil mulai mengantuk. Bayi yang sudah amat kelelahan memiliki kesulitan untuk bisa nyaman tertidur. Maka, sebelum ia sulit tidur, pastikan Anda selalu memerhatikan tanda-tanda tadi. Anak yang sudah makin besar akan menunjukkan tanda-tanda ceroboh, manja dan lekat pada orangtua, dan hiperaktif.

Ketahui Bahwa Waktu Tidur Bayi Sangat Panjang
Bayi butuh waktu tidur sekitar 16 jam per hari, hanya terbangun untuk makan dan mengganti popok atau baju yang basah. Semakin ia bertumbuh, waktu tidurnya akan berkurang di siang hari dan makin lama di malam hari. Ketika menginjak usia 6 bulan, bayi seharusnya bisa tidur sepanjang malam dan tidur siang sekitar 2-3 kali. Memasuki usia usia setahun, bayi cukup tidur siang sekali atau dua kali per hari dan tidur sekitar 11 jam di malam hari.

Beri Makan, Istirahat, Baru Tidur Siang
Adalah hal yang alami untuk bayi tertidur usai diberikan susu. Saat memberikan susu sebelum tidur bagi bayi yang baru lahir adalah waktu untuk membentuk ikatan yang baik. Namun, jika terlalu lama diberikan susu hingga ia tertidur, maka hanya itu cara yang ia pelajari untuk bisa tertidur. Cobalah untuk memberi jeda dari memberikan susu dengan tidur siang, bahkan jika hanya terpisah beberapa menit saja. Misal, dengan membacakan dongeng atau bersenandung sebelum ia pulas tidur, dan Anda sudah menarik botolnya.

Perpanjang Tidur Siang
Apakah si bayi mudah mengantuk? Apakah usianya lebih dari 6 bulan dan tidur siangnya masih terputus-putus (sekitar 20 menit per rentang tidur siangnya). Coba dorong si kecil untuk tidur siang lebih lama. Caranya, di jam yang biasanya ia tidur siang, coba ajak ia bermain atau buat ia agar tidak langsung jatuh tidur. Agar si kecil bisa belajar tidur lebih lama, idealnya 1-2 jam per tidur siang dan bisa tidur lebih nyenyak di malam hari.

Buat Rutinitas Sebelum Tidur Siang
Ciptakan rutinitas sebelum tidur siang dan jalankan terus sebisa mungkin. Bantu si bayi tidur lebih nyenyak dengan:
- Menidurkannya di siang hari pada waktu yang sama setiap hari.
- Menghindari tidur siang yang terlalu sore. Jika si bayi mengalami kesulitan untuk tertidur di malam hari, percepat waktu tidur siang, atau bangunkan dia dari tidur siangnya lebih cepat (hati-hati membangunkannya).
- Selalu menggunakan tempat tidurnya sendiri saat ia akan tidur di malam hari dan saat tidur siang, agar ia mengasosiasikannya dengan waktu untuk tidur.

Biasakan Tertidur Sendiri
Setelah beberapa minggu, mulailah membiasakan bayi untuk tertidur sendiri di tempat tidurnya, tak perlu harus tertidur di pelukan Anda baru dipindahkan. Saat ia terlihat sudah mulai cukup mengantuk, taruh ia di tempat tidurnya. Ini akan mengajarnya untuk tertidur dengan sendirinya dan tidak lagi tergantung untuk digendong, digoyang, atau diberi makan. Ini juga membantunya untuk belajar kembali tidur jika ia terbangun di malam hari.

Pikirkan Kemanan
Pindahkan bayi jika ia tertidur di tempat yang tidak aman. Ini termasuk sofa, tempat tidur orang dewasa, atau di lantai. Selalu taruh bayi tertidur dalam keadaan telentang untuk menghindari Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Jauhkan selimut, bantal, boneka, bantal pengaman, dan barang-barang lembut jauh dari area tidur bayi. Jangan biarkan si bayi tidur dekat anak kecil yang lebih besar atau binatang peliharaan.

Hindari...
Membangunkan Bayi
Bagaimana jika bayi tertidur di car seat-nya? Angkatlah car seat-nya. Ia bisa menyelesaikan tidur siangnya di sana. Anda tak perlu membangunkannya untuk memindahkannya ke tempat tidurnya. Biasanya, dalam keadaan pulas, akan lebih mudah untuk memindahkan si bayi.

Terburu-buru Mendatanginya Setiap Saat
Bersin, cegukan, menghela napas, bahkan sedikit suara seperti menjerit adalah suara yang umum saat tertidur. Jadi, Anda tak perlu selalu berlarian menuju tempat tidurnya untuk mengangkatnya. Bahkan terbangun dan menangis sedikit bisa jadi hanya berarti bahwa si bayi sedang berusaha mencari tempat nyaman. Tunggulah beberapa saat sebelum mengeceknya, kecuali Anda berpikir bahwa ia benar-benar sedang tidak aman, tidak nyaman, atau lapar.

Warna Busana Muslim Untuk Pria

Jumat, 12 Maret 2010
Tak kalah dengan wanita pria juga harus mampu berdandan ( tapi jangan terlalu berlebihan), hal ini perlu karena untuk menjaga kebersihan dan penampilan agar terlihat rapid an bersahaja. Apalagi kalau hari raya sang pria wajib dan harus memakai BUSANA MUSLIM. Nah, bagi yang sudah berumah tangga mungkin tidak begitu sulit karena sudah ada sang istri yang membantunya untuk memilih mungkin membelikan BAJU MUSLIM, karena biasanya para pria ga begitu suka mode dan peduli.

Untuk para istri perlu diperhatikan dalam memilih baju untuk sang suami. Kualitas sudah tentu, nah yang lainnya adalah warna jangan terlalu norak. Jangan samakan ketika Anda membelikan diri sendiri dengan membelikan suami, warna yang netral untuk pria adalah putih, coklat agak muda, abu – abu. Jagan pernah Anda memilih warna kuning atau orange, sangat tidak pas. Apalagi kalau dipakai saat hari raya. Dan buat suami Anda senyaman mungkin, bilaperlu ajak dia saat Anda belanja agar sesudah sampai barangnya di rumah, sang suami protes.

Resiko Hamil bagi Pengidap Diabetes

Senin, 01 Maret 2010


Apa benar bila seorang wanita yang mengidap diabetes kemudian hamil, bisa mengalami keguguran atau bayinya lahir dalam keadaan cacat? Apakah hal ini bisa dicegah?" (Pertanyaan dari Sarah, via email)

Ya, apabila kehamilan terjadi ketika kondisi gula darah Anda dalam keadaan tidak terkontrol. Risiko janin Anda yang sedang terbentuk itu untuk menderita cacat bawaan memang akan menjadi lebih tinggi. Bahkan, jika kelainan yang terjadi ternyata sangat parah, ini bisa berakibat terjadinya keguguran atau kematian janin. Namun, hal ini tidak akan terjadi apabila gula darah Anda sudah dapat terkendali.

Perlu diketahui, kadar gula darah yang tinggi bisa merusak metabolisme sel-sel embrionik. Dan, selanjutnya, berpengaruh pada organogenesis atau pembentukan organ yang sangat penting, yang terjadi pada trimester awal kehamilan. Untuk mencegahnya, tidak ada jalan lain. Anda perlu mengontrol gula darah agar tetap dalam batas normal.

Narasumber: Dr Caroline Tirtajasa, SpOG, dokter spesialis kandungan dan penyakit kandungan RS Omni Medical Centre, Pulomas, Jakarta

 

Browse